Monday, May 28, 2012

Masih Dalam Memori


Ingin kutuliskan suatu kata yang aku pun tak tau apa artinya. Suatu kata yang sulit sekali aku ungkapkan karena getaran-getaran di dalam kepala ini tak cukup sanggup untuk menyangganya. Jam dinding pun mengikuti irama denyut nadiku yang kian cepat, mungkinkah ini hanya terjadi mimpiku saja. Perlukah aku mencoba bangun dari segalanya? Hatiku seperti sedang terbungkus lapisan-lapisan kerak laut, menusuknya ke dalam dan merobek-robek menjadi sayatan-sayatan yang hancur di dalam, namun tak ada celah untuk keluar dari kebelengguannya. Tuhan... bisakah Engkau buat diriku ini mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi? Aku sadar, tak sopannya aku yang kotor ini meminta kepada-Mu. Tapi kurasa, tak ada lagi makhluk-Mu yang sanggup mendengarkan cerita-ceritaku, bahkan rasanya semut-semut pun cukup bosan untuk melihatku. 
Pikiranku semakin tak karuan mendengar berita itu Tuhan. Tak kuasa aku untuk menahannya, aku ingin berontak namun hati berkata lain. Tak bisa kuungkapkan seperti mereka-meraka itu. Aku pun juga tau Engkau melarangku melakukannya. Hingga kukeluarkan segalanya dengan jalan yang berbeda, tak seperti mereka. Mereka pun seketika tersontak diam. Kupikir dengan mematuhi larangan-Mu, mereka akan menerimaku Tuhan, tapi dunia berkata lain. Mereka malah semakin membenciku Tuhan. Apakah ini karena segala perbuatan yang aku lakukan di masa yang lalu Tuhan? Apa Engkau menghukumku? Sampai sekarang pun aku masih tak mengerti bagaimana arti kata itu. Apakah aku harus menjadi seperti mereka? Aku tak sanggup.
Hari berganti tak ada buah kupetik. Aku tak seperti hal mereka, tak bisa mencoba menghapuskan segala memori putih dengan begitu banyak nodanya. Aku hanya bisa menyimpannya di bagian dalam tubuhku. Berharap suatu hari aku menemukannya agar tak perlu lagi bagiku untuk menghitung pergantian detik hingga menit dan juga jam. 


Halten sie den geist. Hani.

0 comments:

Post a Comment