Showing posts with label Interpersonale. Show all posts
Showing posts with label Interpersonale. Show all posts

Sunday, November 03, 2013

Silahkan pilih :)

Paradigm's Power of Yours cont'd.

How're ya fellas?

Sudah sebulan lebih ya saya menjanjikan postingan. Ah, maafkan saya. Bukan karena tidak ada kemudahan mengakses internet, mungkin juga permasalahan dengan orang tua, bisa jadi permasalahan perkuliahan, ataupun sesuatu lain yang akan saya salahkan, tapi ini........ karena saya sendiri.

Bisa saja saya berkata "Sebenarnya aku bisa sih menulis postingan minimal seminggu dua kali, bahkan lebih hebat dari itu, tapi kan akses internet di kosan nggak ada," yang pada kenyataannya saya bisa online twitter, facebook, dan posting foto di instagram hampir setiap hari. Kebohongan pribadi yang menjadi salah satu pilihan.

Ini sama halnya seperti postingan saya sebelumnya, bagaimana mengatasi doktrin yang sudah menancap di pikiran dan adanya pembandingan. Disini kata-kata kerennya, Jadilah Proaktif. Idenya adalah "Akulah sumber pendorong diriku sendiri. Akulah kapten hidupku. Aku bisa memilih sikap. Akulah yang bertanggungjawab atas kebahagiaan ataupun ketidak-bahagiaanku sendiri. Akulah yang duduk di kursi pengemudi menuju takdirku, bukannya penumpang". 

Di dunia ini, ada dua tipe orang, yang proaktif dan yang reaktif. Mereka yang bertanggung jawab atas hidupnya, dan mereka yang bisanya menyalahkan. Mereka yang menjadikan segalanya terlaksana, dan mereka yang jadi korban.


Di cerita singkat tentang bagaimana saya mengungkapkan kekecewaan tentang adanya sistem pembandingan di pendidikan Indonesia, ini sama halnya dengan mengatakan "Mana bisa belajar kalau sistemnya jelek. Yang tidak bisa semakin merasa tidak bisa. Menyebalkan deh." Ini sungguh biadab, karena sama halnya memberikan remote pengendali kita kepada orang lain. Jika pemegang remote memencet A, respon juga keluar A. Tidak heranlah kalau orang-orang seperti ini tidak pernah 'main'. Karena dalam benaknya, masalah ada "di luar sana". Tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan sikapnyalah yang jadi masalah. Dan ini berarti ia mendapati virus jadi korban. Celakanya, jadi korban adalah ciri-ciri orang reakif. 


Bertanggungjawablah atas segalanya dalam hidupmu. Kalau saja ada orang yang membuatmu marah, kemudian kamu mengeluh, coba berfikir "Ayolah, mana mungkin ada yang bisa membuatmu marah kalau kamu tidak membiarkannya. Itu kan pilihanmu sendiri. Kamu sendirilah yang memilih untuk marah". Tantanglah dirimu, pastikan tidak pernah menyalahkan siapapun atas sikapmu. Ide ini seperti pil pahit yang sulit kita telan sebagai remaja. Tapi fikirlah, pasti ada benarnya juga. 

Proaktif akan memberikan kita banyak manfaat. Orang proaktif beda. Dia itu..
Tidak mudah tersinggung
- Bertanggung jawab atas pilihannya sendiri
- Berfikir sebelum bertindak
- Cepat pulih kalau terjadi sesuatu yang buruk
- Fokus pada hal-hal yang bisa mereka ubah,
- dan tidak menguatirkan hal yang tidak bisa mereka ubah.

Halo? Tak mungkin kita mengandalikan warna kulit kita, siapa orang tua kita, dimana kita lahir, bagaimana orang-orang memandang kita. Tapi ingat ya, ada hal-hal yang bisa kita kendalikan : bagaimana reaksi kita terhadap apa yang terjadi pada kita. Malah, inilah yang penting. Bagaimana jadinya kalau kita buang-buang waktu dan tenaga menguatirkan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, seperti komentar-komentar yang buruk, kesalahan di masa lalu, atau hujan? Think again. Kita bisa semakin lepas, dan... menjadi korban.

Bersikap reaktif memang lebih mudah. Lepas kendali, tidak dibutuhkan kendali apapun. Merengek dan mengeluh memang jauh lebih mudah. Proaktif lebih sulit. Tapi ingatlah, kamu tidak harus sesempurna itu. Kita pun tidak mungkin bisa benar-benar menjadi proaktif atau reaktif melainkan ditengah-tengahnya. Jika setiap harinya kita punya 100 peluang untuk bersikap proaktif atau reaktif, dan hari ini melakukan 20nya, boleh saja keesokan hari kita naikkan menjadi 30, 40, 50. Tidak ada perubahan besar yang tidak dimulai dari perubahan kecil. 

Seperti kaleng soda, orang reaktif membuat pilihan-pilihan menurut dorongan hati. Kalau kehidupan mengocok sedikit saja, tiba-tiba ia meledak. Orang proaktif ibarat sebotol air, dikocok seperti apapun, dibuka tutupnya, takkan terjadi apa-apa. Tenang, dingin dan terkendali.

Kamu benar-benar tidak perlu bereaksi seperti orang lain atau seperti yang seharusnya menurut orang lain. Mau jadi kaleng soda atau sebotol air pun? It's your choice.
Semoga bermanfaat.

Referensi : The 7 Habits of Highly Effective Teens by Sean Covey
Memenuhi tugas mata kuliah Ketrampilan Interpersonal
Dosen : Achmad Holil Noor Ali

Friday, September 20, 2013

Paradigm's Power Of Yours

            Hello readers. Blog ini memang sudah cukup lama dibuat tapi tidak pernah terisi ya. Hehe.
Kali ini Hanum akan bahas suatu hal yang sebenernya bukan hal baru, tapi nggak banyak orang tau, atau mungkin tau tetapi orang tidak menyadari keberadaannya. Padahal, ini penting untuk hampir segala aspek kehidupan kita sebagai manusia. Jadi kalo merasa bukan manusia tidak diteruskan juga tidak apa-apa. Heee. Disini hanum cuma mau menekankan kita sama-sama belajar ya, jadi kalau ada yang kurang sreg atau mau menambahkan silahkan langsung cus post comment tidak perlu sungkan. 
Paradigm of yours. Sebenernya apasih paradigm (paradigma) dan paradigm of yours itu sendiri? Paradigm adalah cara pandang atau pola pikir kita terhadap suatu hal. Maka paradigm of yours berarti cara pandang kita terhadap diri kita sendiri. Nah bagaimana itu, mari kita bahas.
Cara pandang disini maksudnya adalah persepsi atau sebuah gambaran dari diri kita terhadap diri kita sendiri. Bisa tentang abilities, uniqueness, typical behavior, apa saja yang menyangkut diri kita. Banyak sekali problematika-problematika yang ada di dalam diri manusia disebabkan karena adanya kesalahan bagaimana cara kita memandang terhadap diri sendiri. Kenapa bisa? Seperti saya sendiri dan juga kebanyakan orang, kesalahan manusia ini adalah sering sekali memikirkan hal-hal negatif untuk diri sendiri. Contoh simple, saya dulu merasa bicara di depan banyak orang itu susah dan menakutkan. Setiap ada apa-apa jarang sekali berbicara ataupun mengajukan pendapat apalagi berani memimpin dan presentasi di depan kelas (saat itu masih sekolah). Dikarenakan cara pandang terhadap diri ini efeknya dahsyat, positifnya dahsyat, negatifnya pun juga begitu. Kemudian bagian jeleknya tentu saja saat itu dikenallah saya sebagai anak yang pemalu dan tidak pede. Selalu berfikiran bahwa “Aku nggak bisa. Aku nggak bisa. Aku nggak bisa” ataupun “Presentasi itu susah. Presentasi itu susah”, dan mungkin doktrin ‘takut salah’ dan adanya pembandingan dari pendidikan indonesia yang membuatnya begitu. Bukan maunya menyalahkan pendidikan indonesia tapi ya well, saya sendiri merasakan itu. Di awal sekolah, nilai english saya rata-rata dibawah teman-teman sekelas, sampai-sampai menjadi minder. Di kemudian hari saya selalu merasa english itu susah dan saya merasa tidak mudah memahaminya. Benar saja, dengan cara pandang yg negatif tentang english di diri saya, mana bisa english skill menjadi ok? Padahal beberapa orang pun nampaknya dapat dengan mudah mempelajari english dengan jangka waktu yang tidak terlalu lama.
Kita semua memang harus belajar untuk mengikis kebiasaan-kebiasaan ini, kalau bisa sampai menghapuskan ya. Mulai belajar mengubah paradigma, think positive. Ohiya ilmu ini sebenarnya ada di psikologi, dengan istilah Self Concept. Yuk kita belajar self concept dengan benar dan menjadi manusia yang lebih baik.
Ada lagi readers, kalau readers tanya bagaimana dengan doktrin tadi? Ada solusinya kok. Tunggu di postingan berikutnya ;)


Salam hangat, Hanum.

Memenuhi tugas mata kuliah Ketrampilan Interpersonal
Dosen : Achmad Halil Noor Ali